Dilema Rumah Dinas

Ada rasa miris dan kasihan ketika kemarin saya menonton di salah satu stasiun TV mengenai sengketa antara penghuni rumah dinas TNI dengan aparat yang bertugas mengosongkannya. Para penghuni bersikeras tidak mau meninggalkan rumah tersebut sedangkan aparat tetap berusaha mengosongkannya sehingga sempat terjadi ketegangan walaupun pada akhirnya aparat dari TNI tetap dapat mengosongkan secara paksa rumah-rumah tersebut. Kita tidak dapat menyalahkan para anggota TNI yang bertugas mengosongkan rumah tersebut karena mereka hanya menjalankan tugas yang diberikan oleh pimpinannya tetapi kita juga tidak dapat menyalahkan para penghuni yang tidak mau pindah karena mereka beralasan masih menunggu keputusan hmkum yang katanya masih berjalan.
Memang kalau membicarakan masalah rumah dinas ini seakan menjadi dilema baik bagi penghuninya maupun bagi instansi/perusahaan yang memberikan fasilitas tersebut. Dari pengalaman saya yang memang ditugasi oleh perusahaan untuk mengurusi sarana umum termasuk salah satunya rumah dinas perusahaan, memang banyak suka dukanya. Sukanya antara lain kita dapat berinteraksi dan kenal dengan semua keluarga yang menempati komplek perumahan tersebut, tetapi dukanya kalau sudah berhadapan dengan karyawan pensiun yang masih menempati rumah dinas. Ketika kita ingatkan untuk segera mengosongkan dan mengembalikan rumah dinas ke perusahaan, kadang-kadang mereka suka bilang kita tidak berperasaan atau tidak menghargai jasa mereka selama ini. Padahal dari awal mau menempati rumah dinas sudah diberitahukan baik itu secara lisan maupun tulisan kalau rumah dinas ini diperuntukan untuk karyawan yang masih aktif guna mendukung kelancaran tugasnya sehari-hari. Kalau nantinya mereka sudah memasuki masa pensiun maka rumah tersebut harus dikembalikan kepada perusahaan. Tapi masih juga ada sebagian karyawan yang beranggapan kalau rumah itu bisa jadi hak milik mereka karena mereka telah menempatinya cukup lama.
Dari pengalaman yang saya dapat biasanya mereka yang bermasalah dengan rumah dinas ini antara lain disebabkan karena :
  1. Terlena dengan fasilitas yang ada sehingga lupa mempersiapkan segala sesuatunya untuk memasuki masa pensiun salah satunya perumahan sehingga ketika masa itu tiba mereka jadi kaget dan merasa berat karena belum ada persiapan. Mau mengontrak atau sewa rumah terasa berat apalagi untuk membeli atau menbagun rumah karena pendapatan yang diterima sudah tidak seperti dulu lagi.
  2. Keenakan dengan fasilitas dan kemudahan yang ada di rumah dinas seperti tidak ada pengeluaran untuk sewa dan perbaikan rumah karena di tanggung perusahaan, fasilitas air bersih dan listrik yang mencukupi tanpa perlu bayar sehingga merasa berat untuk meninggalkan itu semua.
  3. Terlanjur banyak kenangan dan peristiwa baik suka dan duka yang dialami di rumah tersebut sehingga merasa berat untuk meninggalkannya.
Itulah diantaranya beberapa alasan yang membuat sebagian karyawan yang memasuki masa pensiun keberatan untuk mengembalikan rumah dinas ke instansi/perusahaan tempat mereka bekerja.
Terlepas dari itu semua yang namanya rumah dinas adalah rumah beserta fasilitas yang diberikan perusahaan/instansi kepada karyawan/pegawai yang masih aktif dan harus dikembalikan ketika yang bersangkutan memasuki masa pensiun. Jadi mau tidak mau rumah dan fasilitas tersebut harus dikembalikan karena memang rumah tersebut bukan hak milik, kalau rumah tersebut dijadikan hak milik maka kasihan kepada karyawan yang baru karena tidak ada lagi rumah yang bisa mereka tempati guna mendukung kelancaran tugasnya.
Makanya untuk mengingatkan kita semua maupun penulis sendiri, bagi yang menempati rumah dinas perusahaan ada baiknya dari sekarang mempersiapkan segala sesuatunya untuk hari depan. Jangan sampai terlena dengan fasilitas yang diterima sekarang sehingga lupa untuk mempersiapkan hari depan ketika kita memasuki masa pensiun karena kita semua pasti akan menjalani masa tersebut baik cepat atau lambat. Kalau dari sekarang kita sudah mempersiapkannya maka nantinya kita menjalani hari tua dengan tenang tanpa perlu takut dan was-was akan diusir atau digusur oleh pihak instansi/perusahaan tempat kita bekerja. Sekarang kita memulai dengan baik maka alangkah bagusnya kalau nanti kita juga mengakhiri masa kerja dan bakti kita dengan baik.(sp)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s