Orangtua Adalah Cermin Buat Anak

dennicandra.com, Dalam rangka pesta perpisahan dan pelepasan kelulusan murid, di sebuah sekolah diadakan pementasan drama. Pementasan drama ini berlangsung meriah karena diikuti seluruh murid-murid yang ada di sekolah tersebut. Semua murid mendapatkan peran dan mereka telah siap dengan kostum dan riasan sesuai peran yang mereka mainkan. Semuanya begitu bersemangat dan antusias mengikuti pementasan drama ini karena pihak sekolah berjanji akan memberikan hadiah bagi murid dengan penampilan terbaik dalam pementasan drama tersebut.

Selain guru dan murid, para orangtua pun hadir menonton dan menyemarakkan pertunjukan ini.

Pementasan drama berjalan dengan lancar dan sempurna, semua murid memainkan perannya dengan maksimal. Ada yang berperan sebagai petani lengkap dengan pacul dan topinya, ada juga yang menjadi nelayan lengkap dengan pukat dan jalanya, sebagian lagi menjadi guru lengkap dengan tas dan buku. Disudut lain kelihatan ada yang berperan sebagai orangtua pemarah dengan wajah ketus dan tatapan sinisnya, ada juga yang memerankan orang sedih yang selalu berurai air mata dan wajah sendu. Beberapa kali terdengar sorak penonton dan tepuk tangan daripara orangtua murid yang hadir menyaksikan penampilan anak-anak mereka.

Setelah pementasan usai, tibalah saatnya pengumuman dari pihak sekolah siapa murid yang mendapatkan hadiah untuk penampilan terbaik. Semua menunggu dengan penuh harap dan masing-masing berdoa didalam hatinya supaya merekalah yang menjadi pemenang. Para orangtua pun tak kalah tegangnya dan semua berharap supaya anak merekalah yang jadi juara dan mendapatkan hadiahnya.

Saat yang dinantikan pun tiba, guru akhirnya membacakan keputusan siapa yang jadi pemenang. Akhirnya … yang jadi pemenang adalah seorang murid yang berperan sebagai kakek tua yang pemarah. Dengan wajah sumringah dan mata berbinar sang anak tersebut berlari menaiki panggung dan diikuti oleh kedua orangtuanya. Ada perasaan bangga yang dirasakan oleh orangtua anak tersebut mendengar gemuruh tepuk tangan penonton.

“Kamu memang hebat, peran yang kamu mainkan terlihat natural sekali. Apa rahasianya sehingga kamu bisa menjiwai peran tersebut? Kamu pasti rajin berlatih ya ?” tanya guru sebelum menyerahkan hadiah kepada anak tersebut

Sang anak menjawab, “Terimakasih atas hadiahnya pak, tetapi justru saya harus berterimakasih kepada Ayah saya. Karena dari beliaulah saya belajar ini semua, Ayahlah yang mengajarkan kepada saya bagaimana caranya marah dan berteriak. Sehari-hari Ayah sering marah dan berteriak kepada saya, maka bukan sesuatu yang sulit buat saya meniru dan mempraktekkan hal tersebut dalam acara ini”

Tampak sang ayah kaget dan tercenung mendengar semua itu. Anak tersebut melanjutkan kata-katanya, “Ayah mendidik dan membesarkan saya dengan cara seperti itu, jadi peran seperti ini adalah peran yang mudah bagi saya”

Hening, semua orang yang ada di ruangan tersebut mendadak terdiam tanpa bisa bersuara. Terlebih kedua orangtua anak yang menjadi juara tersebut. Mereka tertunduk dan semua kebahagiaan yang tadi sempat hadir kini hilang lenyap tanpa berbekas. Perasaan bangga yang tadi menyelimuti mereka berganti menjadi rasa bersalah yang teramat dalam, sekarang mereka berdiri bagaikan terdakwa yang siap menanti vonis hakim.

Mereka sadar dan mendapatkan pelajaran bahwa ada sesuatu yang harus dirubah serta diluruskan dari perilaku mereka selama ini.

Salam CintaBahagia

Mau provokasi lebih lanjut ? Follow saya di twitter @CandraDenni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s